Belajar Sejarah (2)
Lama tinggal di Jawa Barat alias tanah pasundan, saya memang nggak pernah merhatiin nama jalanan di sini, kalo di Bogor sih nama jalannya, Pajajaran, Cirahayu, Jalak Harupat, pangrango.
Pertama saya baca di bukunya E.S ITO, judulnya Negara kelima, bagus tuh buku, kalo Langit Kresna Hariadi lebih focus ke sejarah Jawa, mulai dari 5 jilid Gajah Mada, terus keluar lagi bukunya Perang Paregreg, dan lain-lain, bukunya E.S itu sungguhlah sangat menarik, karena di buku Negara Kelima ceritanya tentang sejarah di Sumatera, terutama Sumatera Barat, dengan teori-teorinya yang menarik, yang saya juga bahkan nggak dapet di kelas sejarah sekolahan jaman dahulu.
Balik ke bahasan tanah pasundan dulu ya, jadi menurut sejarah nih, di era abad ke 13, terjadi peristiwa berdarah yang amat menyedihkan di Lapangan Bubat kerajaan Majapahit, waktu itu Prabu Hayam Wuruk ceritanya mau mempersunting putri dari kerajaan sunda galuh, yang namanya Dyah Pitaloka, tetapi Mahapatih Gajah Mada ngotot bahwa sunda galuh harus membawa Dyah pitaloka sebagai gadis persembahan sebagai tanda sunda galuh tunduk pada kekuasaan Majapahit.
Sunda Galuh menganggap hal itu sebagai penghinaan dan akhirnya memutuskan untuk melakukan perlawanan.Peristiwa tersebut akhirnya menewaskan seluruh utusan Sunda, termasuk raja, ratu, dan Dyah Pitaloka yang akhirnya bunuh diri diri dengan menggunakan senjata kujang (itu loh tugu yang ada di Bogor).Nah, semenjak peristiwa itu, jadi ada dendam tersendiri yang menyebabkan adanya permusuhan antar Sunda dan Jawa,salah satunya yang menyebabkan seluruh jalan di tanah sunda tidak ada yang berbau Gajah Mada ataupun Hayam Wuruk. Walaupun kalau sekarang mungkin tidak seekstrim jaman dulu kali ya…..