poenyakoe……;)

August 20, 2008

Zona motivasi ke Zona Inspirasi.

Filed under: Uncategorized — adenliza @ 7:04 am and

Suatu subuh-subuh buta, pernah saya nulis tentang “Secret” karangannya Madam Rhonda, nggak pake mikir-mikir lagi saya posting, aha sampai kemudian datanglah tulisan balasan ke email saya dari “suhu” saya yang juga membahas tentang itu dari sudut yang berbeda, ibaratnya sama-sama ngeliet sapi tapi dia ngeliet sapinya, saya baru ngeliet ekornya doang, itu juga pake sedotan, halahhhhh….. malu deh akyu….

Intinya adalah, dimana letak kekuasaan Tuhan kalo semua diserahkan ke alam semesta atau pada diri sendiri, padahal semuanya adalah kekuasaan Allah untuk mengabulkan segala hal (itu intinya lho, bahasanya sih jangan tanya deh, jauh…..;)….

Langsung deh, bell in my head ring, ding….dong…..

Saya nggak pernah bahas itu lagi sampai pada pelatihan seft hari kedua, dimana ada pembahasan mengenai zona motivasi dan zona inspirasi, ajarannya adalah kita harus bergerak dari zona motivasi ke zona inspirasi, karena zona motivasi biasanya efeknya hanya sebentar, meminjam istilah dosen saya, bagaikan spritus, gampang menguap…..

Saya juga sempat sedikit bertanya bahasan beliau mengenai pandangan tersebut, and his answer makes my head rings the bell again ding dong ding….

Intinya he don’t buy that (that refers to the statement, not the book, red. hehehehehe)

ada beberapa aliran yang memang memakainya, tetapi alangkah baiknya jika kita ambil yang baik dan benarnya menurut kita, dan tinggalkan yang kita belum percaya dan aplikasikan dengan kepercayaan kita sendiri.

Sekarang saya lebih tertarik dengan zona motivasi dan inspirasi itu sendiri.

Perbedaan antara kedua zona itu berasal dari rootnya.

Center of life pada zona motivasi berasal dari diri sendiri, sementara pada zona inspirasi pusat hidupnya ada pada Tuhan.

Kemudian zona M biasanya berasaldari Desire dan didominasi oleh ego, sementara zona I, berasal dari kasih yang tulus dengan didominasi oleh hati nurani.

Dorongan motivasi adalah keinginan yang kuat, dengan mind state focus on goals, appealed by rewards, sementara zona I didorong oleh panggilan cinta, dengan kondisi pikiran berpusat pada Tuhan dan akan bertambah rajin jika mendekat pada-Nya.

Yang menarik juga dalah jargon yang sering dipakai untuk motivasi adalah Never give up, no pain no gain atau keep on fighting, sementara pada zona inspirasi jargon yang biasa digunakan adalah jangan menjauh dari Tuahn, non God Non Sense, dan iklhlas dan pasrah…..

Dan lebih banyak lagi detil-detil perbedaannya yang membuat saya berpikir, apakah selama ini saya terlalu terjebak dalam zona motivasi sehingga yang saya dapatkan adalah kondisi hati yang cemas, takut, moody, bukannya kondisi hati yang tenang, damai, dan kepasrahan yang indah.  Juga pandangan hidup yang memandang hidup penuh masalah, terkadang membosankan dan tidak ada harapan, bukannya memandang hidup itu indah, berkah dari Yang Kuasa dan layak dinikmati dan disyukuri, terkadang hidup menantang kita untuk menunjukkan sisi terbaik untuk dunia.

Alter all, pelajaran yang saya dapatkan adalah life is just LoGOS (LoGOS is loving God, blessing other and continuous self improvement) the rest is just retail…

Lets move to Inspirational Zone.

Becoming holistic person

Filed under: Uncategorized — adenliza @ 7:00 am and

This idea of writing comes as one friend of mine ask me to write again, what…. I haven’t been write for sooooo long time and really have no idea, hehehehehe….

But something comes in my mind later, something related to becoming successful person vs holistic person.

Beberapa waktu yang lalu, saya baru baca novel yahhhh metropop2 gitu dehhhh, tapi yang ini menarik judulnya become 20 is something hard (yuppieeee….., im still 20…ujung….;). Sebagian kisahnya katanya pada usia 20an kita2 itu dihadapkan pada suatu krisis, dimana pada fase ini “mereka” masih memiliki ambisi besar, mimpi setinggi langit serta energi yang luar biasa besar, padahal hidup itu tidak selalu ideal, bahkan lebih sering terasa pahit.

That’s why mungkin, saya pernah deh terlibat suatu debat2 ngaco dengan temen saya yang menurut saya waktu itu soooo ambitious dengan karirnya, karena menurut dia karir adalah segalanya, yang lain2 itu number two, even keluarga or else…… bagi beliau (waktu itu ya, sekarang kurang tau karena dah lama gak berantem, hahahaha) suksesnya ditentukan pada seberapa dia berhasil dengan  kariernya.  Itu lamaaaa sekali, mungkin sekitar 5 tahunan yang lalu.

Sampai kemudian sekitar tahun 2006, di kuliah wirausaha kalo nggak salah, ada dosen saya yang namanya pak Abdul Basith, wow he’s great, yang ngajarin ukuran sukses itu nggak Cuma diukur pada satu sisi tapi delapan sisi mencakup 8 aspek dalam kehidupan dan tugas kita adalah menyeimbangkan delapan sisi tersebut dalam suatu yang bisa digambarkan dalam bentuk diagram lingkar. Menjawab debat2 kusir saya 5 tahun yang lalu, mungkin bisa dibilang seseorang bisa sukses dalam sisi karir tapi gagal total dalam sisi keluarga, atau mungkin kesehatan, atau mungkin lingkungan sosial. 

Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2008 alias sekarang euy….

Saya ikut pelatihan yang dibayarin kantor (alhamdulillah), namanya pelatihan seft by pak ahmad faiz zainuddin, materi pelatihannya banyak dan sangat menarik, walaupun saya masih setengah-setengah hati menerima teknik tappingnya karena masih banyak gagalnya (aha segala kurang khusuk dll kali ya, my fault), tetapi banyak sekali ide2 dan ilmu baru yang bisa saya ambil, sehingga akhirnya ada juga pelatihan yang nggak bikin saya ngantuk ataupun kabur (trust me, when it got soooooo bored, ill find the way to run away, upssss…).  Salah satunya adalah ajarannya mengenai becoming holistic person, nyaris mirip dengan yang diajarkan dosen saya tetapi ini menyangkut 7 elemen, dan perincian yang lebih jelas lagi.

Ketujuh aspek tersebut adalah spiritual, emotional, social, intelectual, aesthetical, physical, dan financial.

Aspek spiritual adalah enlightened soul, bagaimana kita bisa mencapai meaningful dan joyful life.

Aspek emotional adalah fighting spirit, yaitu mencapai self integrity dan self mastery.

Aspek social adalah loving heart, yaitu loving paradigm dan loving leadership.

Aspek intellectual yaitu brilliant mind, yaitu wise generalist dan distinctive specialist.

Aspek aesthetical yaitu sharpened sense, untuk menghasilkan beautiful expression dan creative imagination.

Aspek physical untuk prime body, yaitu flexible and strong, serta healthy and fit.

Aspek financial untuk wealthy life, yaitu entrepreneur skill dan fortune skill.

That’s why I just cant wait for his next book “The holistic person empowerment system”

Ada pembahasan yang sangat menarik dalam bukunya Pak faiz, suatu ketika seorang temannya pernah berkata apakah mungkin seseorang bisa menjadi holistic person?, menurut beliau saat itu, it just too perfect, so its impossible to achieve.  And that’s why it called becoming, not being.  Karena being adalah satu keadaan “telah jadi”, final dan statis.  Sedangkan becoming adalah keadaan dinamis, tidak pernah final, selalu berproses menuju perbaikan.  On becoming a holistic person adalah satu ikhtiar terus menerus utnuk memperbaiki diri yang terarah pada kondisi ideal yang tak pernah final: holistic person.

Saya sangat terkesan dengan ilmu-ilmu tersebut, menolong saya untuk selalu berusaha becoming-becoming, dan dengan senang hati saya berbagi dalam tulisan ini, karena dengan berbagi, saya belajar. (nah…nah…itu aspek apa ya, hahahahaha….)

WPMU Theme pack by WPMU-DEV.