for give…
FORGIVE
By this 3 days, I just lying on my bed, try to recover my health.
Bener ya kita nggak ngehargain kesehatan sampe kita sakit, kita nggak ngehargain kebebasan sampe kita dipenjara, kita nggak ngehargain orang yang kita sayang sampe mereka pergi……., duh amit amit….
Ada 2 film yang saya tonton, dan keduanya bagus bagus banget….
Drama lah my fave, yang pertama judulnya In Her Shoes (acted by Cameron diaz), trus yang kedua Prime (by Uma Thurman).
In her shoes sih ceritanya tentang kakak adik yang sangat berbeda kecuali ukuran sepatunya dia, dan adiknya itu messy sekali hidupnya sampe kakanya nggak tahan, trus dia nyuruh adiknya pergi. Dari situ dia dapet pembelajaran bahwa, apapun yang terjadi, keributan apapun yang terjadi antar mereka, mereka tetaplah saudara, dan mereka saling membutuhkan. Duh…. I love u sis…
Tapi yang paling saya suka di film ini, waktu adiknya si Cameron Diaz ngebacain puisi, untuk orang tua yang dirawat dip anti jompo, puisinya judulnya the power of letting go, terus puisi terakhir yang dia kasih untuk kakaknya di hari pernikahannya.
Waktu kakaknya bilang ke Cameron “ I wish I could just hate u….”
But she couldn’t….
Di Prime, si Uma Thurman, yang usianya 37 tahun pacaran dengan Dave yang umurnya baru 23 tahun, and lucunya si Dave ini anak dari therapist yang sering ditemuin si Uma. I like the sentence when her mother say, to Dave…. That when it comes to relationship and a commitment, love is not enough.
Its ok to fall, to learn and to let go…..
Endingnya saya suka banget, waktu Dave ketemu lagi dengan Uma accidentally di resto, trus mereka saling ngeliet gitu, and masa lalu mereka flashing back gitu, semua yang baik-baik….., trus dengan senyum paling manisnya Uma, dia nodding her head, then continue smile, just like shes saying that she’s okay….., and they all can continue their own life, and then…. Dave moving away walking, smiling….
So sweet isn’t it.
Dalam setiap relationship kita wheter it works out or not, I hope kita semua bisa mengambil apapun yang terbaik, walopun berakhir sakit, but it will heal right…?
Kalupun berakhir, at least we could learn something from it, nothing…. Absolutely not a single thing to regret.
Including us…., I regret nothing, and I wish I could smile like Uma when we finally met again somewhere, somehow, sometime.
Its ok to fall, to learn, to let go……
For me forgiving adalah sesuatu yang selalu dan selalu harus saya pelajari, dengan karakter saya yang meledak-ledak, kadang suka terjadi selisih-selisih yang bikin saya marah dengan seseorang atau sebaliknya.
Dari berbagai fase hidup yang saya udah lalui, dan bakal lebih banyak lagi mungkin nantinya…., saya udah pernah mengalami banyak pertempuran, hehehehehe….
Paling lama saya “marah” ke sahabat saya hampir satu tahun lamanya, sampe akhirnya saya berpikir ini nggak ada gunanya saya marah lama-lama. Sekarang saya udah berteman lagi dengan dia dalam format yang baru (at least menurut saya…;).
Tetapi maksud tulisan saya bukan berarti kita harus berteman lagi seperti sedia kala dengan seseorang setelah kita mengalami pertempuran atau perselisihan dengan orang lain. Adakalanya kita memang nggak usah berhubungan lagi dengan orang itu untuk kebaikan kita ataupun mereka sendiri, tapi intinya adalah lepaskanlah dengan maaf.
Pernah nggak sih nonton sinetron yang ceritanya si bapak or ibu udah mo meninggal terus dia nyari anaknya yang dia usir, dan sekarang mau minta maaf atas kesalahannya selama ini sebelum ajalnya memanggil dan semuanya sudah terlambat, nah…nah… better late than never sih, tapi on time wud be the best rite?
Untuk melengkapinya, barusan saya namatin bukunya Mitch Albom yang judulnya Tuesdays With Morrie, aduhhhhh…. Mata saya belum kering nih gara-gara ikutan terharu sama ceritanya si Mitch. (for u’r info guys…., baca ya nih buku one of the best kok). Dari beberapa bagian dari selasa-selasa bersama Morrie the coach, ada beberapa hal yang menarik yang mau saya bagi. “Maafkan dirimu sendiri sebelum kau mati. Baru kemudian memaafkan orang lain”
“Tidak hanya orang lain yang perlu kita maafkan, Mitch”
“Kita juga harus memafkan diri kita sendiri”
“Untuk segala sesuatu yang tidak kita kerjakan. Untuk segala sesuatu yang seharusnya telah kita kerjakan. Kita tidak boleh berhenti pada penyesalan diri atas sesuatu yang semestinya terjadi. Itu tidak ada gunanya, apalagi bila keadaan sudah menjadi begini”
“Aku pernah menyesal karena seharusnya bisa bekerja lebih keras, aku pernah menyesal karena seharusnya aku bisa menulis buku lebih banyak. Aku sering menghukum diriku sendiri karenanya. Sekarang aku merasa bahwa semua penyesalan itu tiada berguna. Maka berdamailah. Berdamailah dengan diri sendiri dan semua orang di sekitar kita”
Ya udah, teman-teman…..
Kalo saya ada salah-salah maapin ya, hehehhehehe….., (kayak lebaran yak…..;)
Lizaa…..gw nonton Prime taon lalu. Film itu bener2 menginspirasi gw.Yaa….
LOVE IS NOT ENOUGH
Jeanny — June 25, 2006 @ 12:00 am
Ya.. ya.. gw sepakat dengan hal ini. Kalau kita suka dengan seseorang kita harus mulai belajar kehilangan. Karena semua itu nggak abadi, dan nggak ada yang pasti kecuali Ia…
jadi inget episode hidup gw hehehe…
adjie — June 25, 2006 @ 8:26 am
gak nyangka liza jadi filosofis gini hehe
Adhit — June 26, 2006 @ 2:49 am