poenyakoe……;)

June 29, 2006

Nikmat Terbesar

Filed under: Uncategorized — adenliza @ 5:03 am and

Hmmmmm………… mmmmmmmmmmmm….hm…hm…hm….

Mmmmmmmmmmm

MMMMMMMMmmmmm

Dari tadi pagi saya mikir-mikir, bahkan sampe sekarang di depan komputer di rumah.  Dengan segala keterbatasan saya, saya mencoba menjawab pertanyaan teman saya, “ Apa nikmat terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia”.

Astaga, semuanya terlalu banyak.  Bahkan pernah ada yang bilang ke saya kalo mau ditulis dengan tinta, bahkan sampai laut mengering sekalipun tidak akan sanggup untuk menuliskan seluruh nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepada kita.

Saya lemparin aja ke temen-temen brainstorm saya, seperti biasa jawabannya macem-macem, kesehatan…., akal dan pikiran, cinta, bahkan kehidupan itu sendiri adalah nikmat terbesar yang Tuhan berikan kepada manusia. 

Ada juga yang menjawab, baginya terlahir secara dalam islam adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah kepadanya.

Apakah itu nikmat terbesar…

Akankah kesehatan menjadi nikmat terbesar tanpa kesejahteraan?

Akankah akal pikiran jadi nikmat terbesar tanpa hati nurani?

Akankah kehidupan ini jadi nikmat terbesar tanpa amal dan ibadah? Tanpa tujuan? Tanpa hikmah? Tanpa kebijaksanaan?

Akankah waktu menjadi nikmat terbesar tanpa diisi?

Semakin lama saya semakin bingung….

Jadi apa nikmat terbesar?

Dan itulah akhirnya akhir dari kebingungan saya,

Nikmat Tuhan terlalu banyak untuk dihitung, terlampau besar untuk dibandingkan.

Saat sekarangpun, tangan yang saya gunakan untuk mengetik, mata yang saya gunakan untuk melihat, kepala yang saya gunakan untuk berpikir, rejeki yang saya dapatkan untuk hidup, oh sudahlah saya nggak mau bikin daftar sebanyak air laut, itupun nggak cukup…..;).

Walaupun seluruh kata-kata kita kerahkan untuk memuja dan memuji-Nya, pasti tidak akan sebanding dengan keagungan, kebesaran, dan limpahan nikmat yang telah Allah limpahkan.

Bagi saya ini adalah sebuah pertanyaan yang tidak terjawab, mungkin karena keterbatasan ilmu saya, mungkin karena kekurangpengalaman saya.

Tetapi sungguh………, bagi saya semua nikmat Tuhan adalah karunia yang harus disyukuri, sekecil apapun pada dasarnya semua hal itu berkaitan satu sama lain.  Dan bagi saya semua nikmat itu besar sekali.

Sebenernya pertanyaan tadi pagi sedikit menegur saya tentang rasa syukur yang harus sering-sering saya panjatkan.

Alhamdulillah….

Note:

for someone who can teach me, please share….

thank you.

                                                      

PILIHAN ATAU KEBUTUHAN………….?

Filed under: Uncategorized — adenliza @ 4:53 am and

Pilihan atau Kebutuhan..

As I posted my writing about baby, temen diskusi saya yang iseng itu melontarkan pertanyaan yang lumayan buat iseng-iseng isi waktu, hehehehe…

Pertanyaannya begini: Setuju nggak kalo menikah adalah pilihan, punya anak adalah kebutuhan.

Hmmmmmm, lumayan mancing-mancing keributan di forum niy si mas………. Karena judulnya iseng-iseng, saya juga iseng-iseng nanya pendapat orang-orang yang berbeda pandangannya, dan saya nemuin hal-hal yang lucu juga sih… Memang segalanya itu itu tergantung pandangan dan prioritas seseorang, makanya jawaban orang bisa beda-beda, dan saya juga nggak punya kapasitas dong untuk menentukan dia yang paling benar atau dia yang paling salah, pada dasarnya setiap orang adalah benar menurut diri mereka sendiri rite? ( hmmmmm, ungkapan siapa ya itu, lupa euy…). And they also have their own right to choose what is the best for them.

Jawaban paling common adalah kebalikannya, menikah adalah kebutuhan, sedangkan punya anak adalah pilihan. People needs to get married because udah pada dasarnya manusia ditakdirkan hidup berpasangan dan saling menjaga, saling melengkapi satu sama lain. Punya anak menurut mereka adalah pilihan, jangan salah lhooooo…. Ada yang memilih untuk nggak mau punya anak untuk alasan-alasan tertentu. Walopun yang sedang usaha juga nggak kalah banyak, (tetep semangat ya).

Ada temen saya juga yang dengan semangatnya bilang, “No Za, buat gue semuanya adalah pilihan yang didasarkan pada kebutuhan, terserah orang itu mau memilih untuk menikah atau nggak menikah berdasarkan kehendaknya”. Satu temen saya yang kurang percaya dengan lembaga pernikahan mendukung hal satu ini, sangat sangat setuju dia bahwa menikah itu adalah pilihan, katanya “Orang bisa aja punya anak kalo dia mau tanpa menikah, adopsi kek, apa kek, nikah itu bukan harga mati”.

The friend of my friend which is gay, also have the same opinion. Katanya, untuk gue kedua hal itu sama-sama pilihan, and I choose….. not, (at least for this moment).

Yang lumayan rasional, paling nggak gak neko-neko lah… Katanya, iya menikah adalah kebutuhan Za menurut gue, sedangkan punya anak adalah anugerah, mmmmmm kecuali kalo kumpul kebo nggak dosa…” Sambil ketawa-ketawa, dia nerangin lagi, “Maksud gue, kalo kumpul kebo gak dosa, then nikah adalah pilihan, unless…. Lo ada pelariannya, hehehehehe…” Gitu, gak kurang gak lebih.

Nah loooo, iseng-iseng jadi panjang kan…. Pusing amat ya, nikah itu pilihan, atau kebutuhan, atau anugerah, atau musibah malah….., for some people might be, hahahahaha….. Cuma belum ketemu aja untuk dijadiin narasumber.

Satu hal yang lumayan berkesan buat saya, dulu saya pernah nonton film judulnya “Shall We Dance”, yang ngebintangin si Richard Gere dan Jennifer Lopez, bukan filmnya yang bikin saya terkesan tetapi lebih karena dialognya Susan Sarandon (Yes, she’s playing too), katanya “Why people get married?, because they need witness in their life”.

“Ada milyaran manusia di bumi, apa artinya satu kehidupan?, tapi dalam sebuah pernikahan, aku berjanji menyayangi segalanya, kebaikan, keburukan, kejahatan, hal-hal duniawi, segalanya,

selamanya…

Setiap hari….

Jadi, hidup takkan berlalu begitu saja, karena aku memperhatikan Hidup takkan berlalu tanpa saksi,

karena aku akan jadi saksimu”

Yo wis…., tapi sahabat saya yang mau nikah nih (duh…. Mau dapet saksi hidup ya, kalo kata Susan Sarandon…..;), “Aden, kalo secara islam, nikah mah bukan pilihan atau kebutuhan, tapi itu teh kewajiban bagi yang sudah dewasa dan sudah mampu”, nah looo…., sedangkan anak adalah anugerah dari kewajiban yang telah dijalankan, buah cinta dari pernikahan, bisa juga dipandang sebagai suatu kebutuhan sebagai penerus garis keturunan, atas nama cinta.

Wah kalo saya sih, belum pernah menikah apalagi punya anak, jadi kalo mau ngasih pendapat juga rasanya kurang afdol, makannya saya minta nasihat dari temen sekaligus kakak yang udah saya kenal lama, mamanya si Daffa….dia bilang walau kita nggak tau akhir pernikahan kita kayak gimana, tetapi menikah adalah tempat belajar yang paling hebat, dan anak adalah buah bahagia dari tempat yang hebat itu, percaya sama gue !!!…… Ok mommy, tante Liza percaya….:)

June 24, 2006

for give…

Filed under: Uncategorized — adenliza @ 10:48 pm and

FORGIVE

By this 3 days, I just lying on my bed, try to recover my health.

Bener ya kita nggak ngehargain kesehatan sampe kita sakit, kita nggak ngehargain kebebasan sampe kita dipenjara, kita nggak ngehargain orang yang kita sayang sampe mereka pergi……., duh amit amit….

Ada 2 film yang saya tonton, dan keduanya bagus bagus banget….

Drama lah my fave, yang pertama judulnya In Her Shoes (acted by Cameron diaz), trus yang kedua Prime (by Uma Thurman).

In her shoes sih ceritanya tentang kakak adik yang sangat berbeda kecuali ukuran sepatunya dia, dan adiknya itu messy sekali hidupnya sampe kakanya nggak tahan, trus dia nyuruh adiknya pergi.  Dari situ dia dapet pembelajaran bahwa, apapun yang terjadi, keributan apapun yang terjadi antar mereka, mereka tetaplah saudara, dan mereka saling membutuhkan.  Duh…. I love u sis…

Tapi yang paling saya suka di film ini, waktu adiknya si Cameron Diaz ngebacain puisi, untuk orang tua yang dirawat dip anti jompo, puisinya judulnya the power of letting go, terus puisi terakhir yang dia kasih untuk kakaknya di hari pernikahannya.

Waktu kakaknya bilang ke Cameron “ I wish I could just hate u….”

But she couldn’t….

Di Prime, si Uma Thurman, yang usianya 37 tahun pacaran dengan Dave yang umurnya baru 23 tahun, and lucunya si Dave ini anak dari therapist yang sering ditemuin si Uma.  I like the sentence when her mother say, to Dave…. That when it comes to relationship and a commitment, love is not enough.

Its ok to fall, to learn and to let go…..

Endingnya saya suka banget, waktu Dave ketemu lagi dengan Uma accidentally di resto, trus mereka saling ngeliet gitu, and masa lalu mereka flashing back gitu, semua yang baik-baik….., trus dengan senyum paling manisnya Uma, dia nodding her head, then continue smile, just like shes saying that she’s okay….., and they all can continue their own life, and  then…. Dave moving away walking, smiling….

So sweet isn’t it.

Dalam setiap relationship kita wheter it works out or not, I hope kita semua bisa mengambil apapun yang terbaik, walopun berakhir sakit, but it will heal right…?

Kalupun berakhir, at least we could learn something from it, nothing…. Absolutely not a single thing to regret.

Including us…., I regret nothing, and I wish I could smile like Uma when we finally met again somewhere, somehow, sometime.

Its ok to fall, to learn, to let go……

For me forgiving adalah sesuatu yang selalu dan selalu harus saya pelajari, dengan karakter saya yang meledak-ledak, kadang suka terjadi selisih-selisih yang bikin saya marah dengan seseorang atau sebaliknya.

Dari berbagai fase hidup yang saya udah lalui, dan bakal lebih banyak lagi mungkin nantinya…., saya udah pernah mengalami banyak pertempuran, hehehehehe….

Paling lama saya “marah” ke sahabat saya hampir satu tahun lamanya, sampe akhirnya saya berpikir ini nggak ada gunanya saya marah lama-lama.  Sekarang saya udah berteman lagi dengan dia dalam format yang baru (at least menurut saya…;).

Tetapi maksud tulisan saya bukan berarti kita harus berteman lagi seperti sedia kala dengan seseorang setelah kita mengalami pertempuran atau perselisihan dengan orang lain.  Adakalanya kita memang nggak usah berhubungan lagi dengan orang itu untuk kebaikan kita ataupun mereka sendiri, tapi intinya adalah lepaskanlah dengan maaf.

Pernah nggak sih nonton sinetron yang ceritanya si bapak or ibu udah mo meninggal terus dia nyari anaknya yang dia usir, dan sekarang mau minta maaf atas kesalahannya selama ini sebelum ajalnya memanggil dan semuanya sudah terlambat, nah…nah… better late than never sih, tapi on time wud be the best rite?

Untuk melengkapinya, barusan saya namatin bukunya Mitch Albom yang judulnya Tuesdays With Morrie, aduhhhhh…. Mata saya belum kering nih gara-gara ikutan terharu sama ceritanya si Mitch. (for u’r info guys…., baca ya nih buku one of the best kok).  Dari beberapa bagian dari selasa-selasa bersama Morrie the coach, ada beberapa hal yang menarik yang mau saya bagi.  “Maafkan dirimu sendiri sebelum kau mati.  Baru kemudian memaafkan orang lain”

“Tidak hanya orang lain yang perlu kita maafkan, Mitch”

“Kita juga harus memafkan diri kita sendiri”

“Untuk segala sesuatu yang tidak kita kerjakan.  Untuk segala sesuatu yang seharusnya telah kita kerjakan.  Kita tidak boleh berhenti pada penyesalan diri atas sesuatu yang semestinya terjadi.  Itu tidak ada gunanya, apalagi bila keadaan sudah menjadi begini”

“Aku pernah menyesal karena seharusnya bisa bekerja lebih keras, aku pernah menyesal karena seharusnya aku bisa menulis buku lebih banyak.  Aku sering menghukum diriku sendiri karenanya.  Sekarang aku merasa bahwa semua penyesalan itu tiada berguna.  Maka berdamailah.  Berdamailah dengan diri sendiri dan semua orang di sekitar kita”

Ya udah, teman-teman…..

Kalo saya ada salah-salah maapin ya, hehehhehehe….., (kayak lebaran yak…..;)

baby…. baby…..

Filed under: Uncategorized — adenliza @ 10:43 pm and

Baby…baby…

Last week, saya ke rumah sakit, ada yang sakitkah….?

Temen saya melahirkan, a little baby girl, yang lucuuuuu banget. Rasanya lucu deh, ngeliet ke ruang baby, dimana semua baby lagi tidur dengan imutnya, ngegemesin… Meanwhile….., adik saya will have a baby too, this end of month. Inspired me to write about baby….

Buat saya, mempunyai baby adalah proses perubahan yang sangat besar yang terjadi dalam hidup seseorang, well, idealnya dua orang. Having a baby bukan sekedar melahirkannya ke dunia sebagai efek dari kegiatan seksual dua orang manusia.

Melahirkan suatu sosok baru ke dunia menuntut kesiapan yang sangat matang dari dua pihak terkait. Yang jelas dari sisi tanggungjawab dan perubahan pola hidup yang drastic mungkin terjadi pada orangtua baru tersebut. Temen kantor saya salah satunya, setelah punya baby, otomatislah dia yang tadinya pulang kantor yang masih kelayapan kian kemari, jadi siap grakkkk langsung pengen pulang ke rumah merawat babynya, memang tugas ganda seorang perempuan bekerja untuk menghadapai dilemma antara ngurusin keluarga, dan mempertahankan karier (u go women !!!!).

Okay, back to baby things…. Having a baby, gak Cuma bertanggungajawab untuk membesarkan dan ngerawat dia hingga dia jadi manusia yang mandiri, lebih dari itu, kita harus bisa menjaga keseimbangan hubungan antara anak dan orangtua… Artinya bagaimana kita bisa menuntun anak kita hingga bisa mempunyai pikiran yang baik tanpa kita harus memaksakan pikiran-pikiran yang kita miliki.

Lebih dari itu, bagaimana kita juga dapat menyeimbangkan peran serta dari kedua sosok baik ayah maupun ibu, according to my friend, an excellent father in my eyes, katanya seperti layaknya sebuah pesawat, sosok ayah dan ibu seperti sayap kanan dan kiri pesawat tersebut, jika kurang dikhawatirkan terjadi ketidakseimbangan dari lajunya sang pesawat.

Dari pengalaman saya, syukur kepada Tuhan, saya diberi kebebasan berpikir dan bertanggungjawab atas segala perbuatan saya oleh orangtua saya. Ada beberapa pengalaman teman yang mengikuti apa yang dipikirkan dan diputuskan oleh orangtua mereka.

Well, garis besarnya saya ngerti sih, itu untuk kebaikan anaknya, walopun after all yang ngejalanin kan anaknya, kalo nggak dibiarin jalan sendiri kapan bisa jalan?.

Mengutip tulisannya Kahlil Gibran tentang anak, “Anakmu bukan milikmu, mereka putera-puteri sang hidup, yang rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau” Waktu saya ngomong begitu ada temen saya yang bilang, ya elo sih belon jadi orangtua….. Iya juga sih, mungkin kalo saya udah jadi orang tua pikiran saya juga nggak 100% begini kali, hehehehe….

Tapi balik lagi, menurut saya itu hikmahnya sebuah proses yang dikasi sama Tuhan, kita mengalami tahap-tahap dalam kehidupan kita… Tahap bayi, balita, remaja, dewasa, hingga kita menjadi orangtua, hingga kita menjadi nenek atau kakek…., dari tahapan itu kita belajar pada saat menjadi anak, bagaimana kelak kita akan bersikap sebagai orangtua…., pada saat jadi orang tua, kita juga persiapan belajar, bagaimana menjadi seorang nenek atau kakek…. Pelajaran paling berharga yang menurut istilah teman saya didapat dari school called life…

Saya tutup deh dengan kutipan sang Kahlil Gibran…

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Sang pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian. Dia merentangnya dengan kekuasaan-Nya Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.

(welcome to the world, my dear nephew Raia, and my niece Willma)

June 20, 2006

lets talk about love

Filed under: Uncategorized — adenliza @ 2:53 am and

Once, I’ve read my friends blog, it speaks about love….., one thing I remember, when she write about movie “Autumn in new York"….

dari blognya Dedek juga gue suka kalimatnya yang…" You cant plan, with whom you fall in love, thats why it called falling in love, because you never plan it, u just fall…. and about falling in a forbidden love, she said…..

eventhough it is your right, eventhough you can’t control your feeling, I’m sure you CAN control how you react towards that feeling…Ada batasan-batasan yang emang nggak bisa seenaknya dilanggar…Ada komitmen yang seberapa pun kecilnya harus dihargai…Ada perasaan orang lain yang juga harus dijaga…And you have to remember that…

Dari beberapa orang tempat gue nanya-nanya juga….., salah satunya Mas aziz….., kata dia……

Bagi saya cinta itu tidak ada dan tidak nyata. Apapun terminologi cinta menurut para pakar psikologi, cinta platonis, cinta romantis atau cinta apapun, bagi saya cinta sejati hanya ada dua macam. Yaitu cinta antara Allah kepada manusia ciptaan-Nya dan cinta antara orang tua (terutama ibu) kepada anak-anaknya. Diluar keduanya, bagi saya cinta hanyalah sebentuk omong kosong belaka yang digunakan untuk mengisi waktu luang.

Tentu kemudian muncul pertanyaan, apakah bukan cinta yang mendasari hubungan antara suami isteri dalam sebuah pernikahan? Menurut saya bukan cinta, tapi komitmen dan pengertian. Dua hal itulah yang mampu membuat sebuah pernikahan menjadi everlasting dan seorang suami bisa setia kepada pasangannya sampai mati. Saya yakin tanpa ada cintapun, mereka bisa make love. Seperti yang harry bilang dalam film when harry met sally, bohong apabila seorang laki-laki berkawan dengan perempuan tanpa ada pamrih apapun. Jadi tidak akan ada relasi adik-kakak dalam hubungan antara cewek-cowok. Yang ada adalah interest, termasuk di dalamnya adalah nafsu. Adalah fitrah manusia untuk memiliki nafsu, bahkan nafsu untuk berbuat baik sekalipun.

Argumentasi apa yang membuat saya yakin hanya ada dua jenis cinta di dunia ini? Ijinkan saya untuk sedikit lebih jauh mengungkapkan pemikiran saya ini.

Cinta sejati yang pertama yaitu cinta dari Allah (Sang Pencipta) kepada manusia (ciptaan-Nya). Apabila kita meyakini bahwa semesta ini tercipta tidak dengan sendirinya, maka kita pasti percaya bahwa manusia hanyalah sekedar hasil kreatifitas Tuhan. Dalam keyakinan yang saya anut, Tuhan saya sebut sebagai Allah. Allah, dalam persepsi dan berdasarkan pengalaman pribadi saya, sangat pengasih, sangat penyayang, sangat pemaaf, sangat demokratis, dan sangat terbuka.

Cinta sejati yang kedua adalah cinta orang tua (terutama seorang ibu) kepada anaknya. Ibu mengandung anaknya selama sembilan bulan sepuluh hari. Dia beraktivitas kesana kemari dengan membawa seorang calon bayi, tanpa mengeluh. Pada saat proses melahirkanpun nyawa ibu menjadi taruhannya. Kontraksi setiap satu menit sangat menyiksa. Darah keluar sebegitu banyaknya, padahal si ibu harus mengejan untuk mengeluarkan bayi. Setelah melahirkan ibu tidak bisa langsung beraktivitas dengan sempurna, karena masih harus mengembalikan kondisi tubuh hingga pulih seperti sebelumnya.

Itulah yang sebenar-benarnya cinta sejati, cinta dari Allah kepada manusia dan cinta dari orang tua kepada anaknya. Karena cinta itu diberikan tanpa ada pamrih dan syarat apapun. Trully unconditional love. Tak akan tergantikan oleh cinta lain jenis apapun dan tak akan lekang dimakan oleh waktu.

Oke deh mas, kalo menurut pandangan Leo Buscagla, Cinta yang sempurna adalah jika seseorang memberikan segalanya dan tidak mengharapkan apa-apa,  jika seseorang tidak mengharapkan apa-apa dan tidak meminta apa-apa, ia tidak akan pernah merasa dicampakkan dan dikecewakan.

Yang seru nih, menurut Rollo May, ada empat macam cinta di kebudayaan barat yang mengacu pada kebudayaan Yunani kuno. Pertama adalan sex-nafsu, libido.  Kedua adalah eros-dorongan cinta untuk mencipta, keinginan menuju bentuk tertinggi keberadaan dan hubungan.  Ketiga cinta saudara atau philia, terakhir adalah agape, atau memberi tanpa meminta, bentuk prototype cinta Tuhan pada manusia.

Dalam pandangan sufisme, mengatakan pada kita bahwa cinta dalam bahasa Persia, Ishq, yang diambil dari bahasa arab yaitu kata yang berarti bindweed (bagian dari sejenis bunga yang berbentuk seperti anggur).  Profesor Angha menggambarkan cinta sebagai tingkatan dalam hidup yang paling indah dan spiritual.  Cinta adalah tenaga yang mampu mengikat partikel-partikel menjadi satu kesatuan mampu membangun manifestasi ekstensi menjadi bentuk yang bermacam-macam.  Menurutnya ada tiga tingkatan cinta, yaitu cinta biasa, cinta spiritual, dan ketuhanan.  Mmmmmmm, mirip ya ama pandangan barat.

Kalo menurut gue sendiri….?

Gue lebih berat ke pandangan mas Aziz, gak jauh-jauh deh, adek gue yang udah nikah juga pernah bilang ke gue, waktu itu kan kita lagi jalan bareng, trus ngeliet orang yang lagi pacaran gitu (duile…., iri niy ceritanya, hahahaha),  katanya “wealah den, ntar juga kalo udah married, cinta juga nggak segitunya……”

Well, u might be right Nggie…

Ah, udahlah, ngebahas tentang cinta emang gak bakal ada habisnya, topic yang gak bakal pernah habis digali, makanya semua film, atau lagu, atau buku fiksi, atau apapun, rata-rata temanya tentang cinta dalam arti romance…..

Gue Cuma nyoba ngebahas cinta dari sisi lain, that’s why I said….. lets talk abut love…..

WPMU Theme pack by WPMU-DEV.